yah, aku menamaimu bulat, karena memang posturmu yang kurang tinggi dan gendut. Kau selalu berbalik mengejekku jika ku bilang kau gendut. Kita memang sama sama gendut.
Akhir akhir ini aku sering berkicau tentangmu di twitter, dan selalu menyebutkan kata "bulat". Aku tau kamu juga punya twitter, tapi aku tak yakin kamu memperhatikan semua tweetanku. Toh kalau kau memperhatikan, kau juga tak akan merasa, kau takkan peka.
Bulat, kau tentu tak merasakan apa yang aku rasakan. Kau takkan punya rindu seperti aku yang diam-diam merindukanmu. Kau takkan punya rasa bahagia dalam hati, seperti aku yang selalu bahagia, yang selalu tertawa di depanmu. Dan kau takkan punya rasa cemburu seperti yang aku rasakan jika kau dekat dengan wanita wanita sholehah itu.
Kalau ngomongin wanita sholehah itu, aku selalu minder. Karena aku tak sebaik mereka, aku tak sekalem mereka. Aku yah seperti ini, dengan segala kelemahan dan kelebihanku.
Bulat, kau selalu buatku nyaman jika berada di dekatmu. Kau selalu buatku melupakan segala kegalauanku. Dan kau juga selalu buatku kesal meski akhirnya aku bahagia. Itulah kau bulat.
Aku menyembunyikan segala perasaanku ini, segala kerinduanku dan segala sesuatu yang bergejolak di hati. Semata-mata, agar hubungan kita tetap baik seperti ini. Tak terusik dengan rasaku yang sepihak kepadamu.
Bulat, akankah suatu hari aku dan kamu akan menjadi KITA??
atau hanya akan berakhir dengan aku dan kamu saja. Tak ada KITA..
Entahlahh