Minggu, 24 November 2013

Kamu mau Pergi??

Malam minggu, malah jadi malam kelabu. Ahh, lagi dan lagi aku tak peka denganmu. Yaa, aku tau ini salahku. Tapi aku benar-benar tak tau kenapa kamu bersikap begini. Tak membalas pesan singkatku. Hmmm, hanya satu yang kau balas dan itu hanya tiga kata. Pesan singkat selanjutnya hingga malam tiba tak satupun yang engkau balas. Aku meneleponmu dan hanya 2 menit. Benar-benar tak mengerti.

Kamu mau pergi dari "rumah" sahabatmu??
Tanpa alasan dan tanpa penjelasan??
Membiarkan aku dengan berbagai asumsiku tentangmu

Kamu akan meninggalkan "rumah" sahabatmu??
Karena apa??
Aku benar-benar khawatir dan serba salah
Ini benar-benar mengganggu pikiranku

Kamu benar-benar akan hengkang dari "rumah" sahabatmu??
Harusnya kamu pamit
Harusnya kamu bilang
Agar aku bisa lekas membereskan "rumah" ini sesaat setelah kau pergi
Jika tanpa pesan dan kabar begini
Bagaimana aku membereskan "rumah" ini??

Aku masih menunggu kau kembali

Jumat, 22 November 2013

Zona aman

Ahh..
Kenapa tulisan ini banyak tentang kamu??
Sebegitu berartikah dirimu hingga segala rasa terbit dari sosokmu??
Seberapa lama aku mengenalmu hingga segala ekspresi datang karena sebabmu??

Terlalu berlebihankah aku??
Entahlahh..

Aku hanya mencari tempat paling nyaman untuk bercerita
Aku hanya mencari tempat paling aman untuk meluapkan rasa
Setidaknya tak terlalu beresiko

Facebook,
Bukan tempat yang buatku nyaman. Sudah terlalu banyak mata yang mengamatinya dan banyak mulut yang akan menanyakannya..
Twitter,
Jejaring sosial dengan 140 karakter ini masih menempati peringkat kedua tempat ternyaman. Meskipun aku hanya bisa berkicau singkat..

Ini zona amanku,
berbicara tentangmu, sejauh ini.....

Kamis, 21 November 2013

Pecundang???

Pecundangkah aku???
Tak berani menatap matamu
Tak berani mencoba memasuki pintu hatimu
Tak berani mengulurkan tangan padamu dang menggenggamnya
Tak berani bersandar di bahumu
Tak berani menangis di pelukmu
Tak berani tertawa bersamamu
bahkan
Tak berani kembali denganmu

Pecundangkah aku???
Takut sakit hati
Takut terluka
Takut menangis
Takut gundah gulana

Pecundangkah aku??
Tak mengakui rasa itu
Tak mengakui getaran itu
Tak mengakui rindu yang jelas-jelas mengusik ketenanganku

Lalu, ini salah siapa???
Aku dengan ketakutanku??
Atau kamu yang masih membayangi masa lalumu??

mungkin ini masalah waktu yang belum izinkanku sepenuhnya meletakkan harapan lagi padamu..
Mungkin..

Selasa, 19 November 2013

Aku dan Kisah Satu Bulanku

Ini cerita tentang dua orang sahabat. Bukan karena mereka telah berteman selama bertahun-tahun. Pertemanan mereka masih berumur jagung. Tapi persahabatan lebih kepada kenyamanan satu sama lain yang tidak mereka dapatkan jika mereka menjalin hubungan istimewa.
Inilah sepenggal ceritaku. Salah satu kisah tentang hati. Dan sahabatku ini adalah sosok yang kini menempati salah satu ruang di hati. Kenapa begitu?? Karena cerita awal kita bukanlah hubungan biasa.

Rasa itu tak pernah ada di pertemuan pertama. Dan untuk pertemuan-pertemuan selanjutnya, mungkin. Namun, kau memulainya. Kamu memulai cerita dengan banyak rasa ini. Saat itu, harapanku terlalu tinggi  padamu. Kamulah yang buatku bisa move on dari dia yang telah kucintai selama tiga tahun tapi tanpa muara. Ketika itu, mungkin aku terlalu peka, terlalu gede rasa, hingga beranggap hanya aku yang ada di hatimu. Tapi ternyata aku salah. Cincin di jarimu itu buktinya. Meskipun aku tak berani bertanya langsung, tapi aku punya banyak informan. Dan mendadak jadi Galau.
Aku jadi ingat kutipan perkataanmu padaku kala itu..
"Aku sayang denganmu, dan aku akan mencoba lebih. Tapi perlu kau tahu, bahwa rasa cinta di hatiku sudah lama mati "
Dan aku percaya begitu saja.
Sekarang, aku baru sadar.. Rasa cinta yang kau bilang sudah lama mati, MATI??? Bukan mati, tapi masih untuk dia di masa lalumu. Kenapa kau tak jujur saja?? Tentu aku bakal lari darimu sebelum aku terlalu sayang.
Hingga suatu hari kau diam, bungkam, tak mau aku ganggu. itu bukan terjadi sehari atau dua hari, tapi berhari-hari. Dan bodohnya aku, kenapa aku terus mengejarmu, terus berusaha membuatmu bicara. Aku benar-benar tak mengerti apa yang terjadi. Aku hanya percaya kata hatiku saja, tak melihat realita.
Dan akhirnya aku tak bisa diam saja. Hanya satu bulan, mungkin lebih beberapa hari, aku menjalani hubungan ini. Cukup, sangat cukup aku rasa. Kecuekanmu dan segala sikap yang tak aku mengerti, sudah cukup membuat hatiku sakit. Dan selamat tinggal pada hubungan ini, siang itu.
Ahh, kenapa aku masih ingat saja setiap penggal kisah ini. Harusnya aku cepat-cepat melupakannya. Semestinya aku menghapus memori itu dan merefresh otakku. Jika aku masih ingat kisah ini, aku bukan dendam. Ingat, aku bukan pendendam. Aku memaafkannya.

Dan kini??
Aku dan kamu berada dalam hubungan persahabatan. Mungkin lebih nyaman seperti ini. Aku tetap bisa menjadi diriku sendiri. Tidak jaim. Dan dengan hubungan ini, aku tak perlu merasa was-was dan sakit hati jika kamu masih dengan masa lalumu itu (mungkin).
Aku sadar, ada benih sayang dalam persahabatan kita. Itu dariku. Entah kalau dirimu.
Mencoba mensugesti diri agar tak tumbuh rasa sayang, tapi aku takut rasa itu bertambah. Jadi aku putuskan, biarlah semuanya mengalir, mengalir namun masih ku kendalikan.   



Minggu, 10 November 2013

Kenapa kamu marah???

Kenapa kamu marah??
Hubungan istimewa itu tak ada

Kenapa kamu marah??
Tingkahmu buat harapan itu membesar

Kenapa kamu marah??
Bahkan, aku terlalu takut untuk mengakui kemarahanmu itu

Semisterius itukah dirimu??
saat aku mencoba memahami hatimu,
ternyata pemahamanku salah

Kenapa kamu marah atas ketidakpekaanku atas perasaanmu??
Perasaanmu memang tak ku mengerti, lebih tepatnya tak berani ku mengerti

Bukan aku tak peka,,
Tapi aku tak berani terlalu peka

Sabtu, 09 November 2013

Aku yang masih saja takut

Selamat pagi Cinta..
Selamat Pagi Sayang..
Panggilan itu hanya berhenti di layar ini, tak punya nyali besar untuk mengucapkan langsung padamu. Meskipun kamu selalu menyuruhku untuk memanggilmu dengan sebutan "sayang". Ketika aku menolaknya, kamu selalu bilang bahwa aku tak peka. Tak peka atas perasaan orang lain. Ahh,, kamu tau apa sayangku. Kamu tak pernah tau bagaimana gejolak hatiku sesungguhnya. Dan kamu tak pernah tau bagaimana rasa kecewa yang kau torehkan saat aku lagi sayang-sayangnya kepadamu. Aku bukan pendendam, tapi peristiwa itu masih saja berbekas. 
Aku sayang kamu, benar-benar sayang kamu. Rasa sayang inilah yang membuatku berani untuk pergi ke rumahmu kala itu seorang diri. Rasa sayang inilah yang membuatku ingin selalu bisa membantumu. Tapi, rasa sayang ini tak cukup membuatku berani untuk meletakkan harapan (lagi) buatmu. 
Sayang, percakapan malam hari kita yang banyak terselip kata-kata sayang ataupun semacam harapan ke depan itu hanya gurauan atau memang dari hatimu?? Terlalu takut untuk mnyimpulkannya sendiri sayang. 

Siapa yang tak mau bersama-sama denganmu dalam masa depanku??
Siapa yang tak mau menjadi pelengkap tulang rusukmu??
Siapa yang tak mau menjadikanmu ayah dari anak-anakku??

dan, tanpa sepengetahuanmu, namamu selalu terselip dalam setiap lima waktuku. Memohon kepada-Nya untuk menjadikanmu yang terbaik bagiku.
Dan, aku harus bisa masak, seperti yang selalu kamu utarakan kepadaku setiap hari.

Jumat, 08 November 2013

Itulah Bedanya AKU dan KAMU



Kadang, 24 jam itu tak cukup bagiku. Apa karena aku yang tak bisa membagi waktu, atau karena saking padat merayapnya kegiatanku. Entahlah. Tapi yang jelas, diantara sela-sela 24 jam itu, pikiran tentangmu kadang menyelinap masuk. Ahh,, ternyata kesibukanku tak membuat aku benar-benar lupa denganmu. Aku selalu ingin tahu sedang dimanakah dirimu, sedang apa dirimu, keadaanmu baik-baik sajakah. Pertanyaan itu tak bakal terjawab jika aku tak mengirim pesan singkat atau tak meneleponmu. Seperti yang aku lakukan hari ini. Rasa penasaran ataukah rasa rindu?? Dan karena itu aku berani melawan ketakutanku.

Dan kamu, ternyata juga sibuk. Mungkin tak sepantutnya aku tau kesibukanmu tentang apa, karena yaa, kita tak terikat hubungan special apapun. Tapi, inilah bedanya aku dan kamu. Aku yang masih sempat mengirim pesan singkat di tengah kesibukanku, tetapi kamu?? Mungkin aku sama sekali tak terlintas di pikiranmu.

Ahh,, kenapa aku berharap lebih denganmu?? Kamu bukan siapa-siapa bagiku. Kamu memang punya arti, sedangkan aku, hanya sahabat atau mungkin teman yang menyukaimu.

Pernah aku teringat suatu kejadian, ketika kamu marah karena seharian aku tak memberimu kabar kala itu, tapi ketika kamu yang tak memberi kabar, aku tak berani berbuat apa-apa. Bukan, bukan aku gengsi. Tapi lebih kepada upaya untuk menjaga hati agar tak terluka.

Mungkin hanya bibir ini yang bisa terucap bahwa aku akan move on darimu, tapi hatiku tak senada dengan ucapanku. Dan aku membenarkan kata-katamu saat itu. Bahwa aku tak akan bisa move on darimu.

Ketika rasa rindu tak menemukan muaranya,

Kemanakah aku harus pergi untuk mencari muara itu

Selasa, 05 November 2013

F I R S T L O V E

Hai Mr.A..
Bagaimana kabarmu sekarang?? Sudah lebih dari 6 tahun kita tak berjumpa. Dan aku dengar kini kau sudah mengucapkan ijab qabul pada seorang wanita yang aku yakin mampu senantiasa berada di sisimu.  Selamat yaa.. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah dan warohmah. Dan kamu tetap akan jadi cinta pertama dan masa lalu yang indah buatku.
Mr.A,, jujur saja sampai sekarang perasaanmu saat itu masih menjadi teka-teki yang tak aku temukan jawabnya. Layaknya seperti puzzle, aku merangkai-rangkai segala bentuk tingkah lakumu, bentuk perhatianmu padaku, tapi ujung-ujungnya rangkaian itu tak lengkap. Dan puzzle itu sampai sekarang masih berantakan. Belum tersusun seperti yang aku inginkan.
Aku masih ingat, bagaimana aku berusaha agar tetap terlihat di matamu di manapun kamu berada. Mulai dari saat di kelas hingga dalam kegiatan ekskul kita. Mengikuti semua ekskul yang kamu ikuti itulah salah satu cara agar aku bisa terus bersamamu. Senyum yang tulus itu. Gaya bicaramu yang selalu bersamaan dengan senyum yang terkembang. Ahhh,, tak pernah bisa aku lupakan.
Mungkin saat itu kita masih dini. Masih ingusan. Hingga tak tahu dan tak mampu mengartikan apa yang sedang bergejolak di hati masing-masing. Itu cinta monyet. Tapi aku protes dan tak mau menyebutnya cinta monyet.  Bagaimana mungkin itu cinta monyet jika hingga 4 tahun perasaan ini masih ada buatmu. Dan karena jarak, perasaan ini berhenti. Aku lebih suka menyebutnya cinta pertama. Karena kamu memang cinta pertamaku. Ada ruang khusus yang tak bisa aku berikan pada siapapun dan itu terkhusus untukmu.
Wanita itu,, yang kini jadi pendampingmu sekarang, ternyata tahu tentangku. Apa mungkin kamu yang bercerita?? Yang jelas aku sangat iri dengannya. Bisa memilikimu seutuhnya.  Dan saat aku dengar kabar itu, entah bagaimana hatiku ini. Antara senang ataupun sedih. Yaah,, kamu telah menemukan jodohmu. Kamu telah bertemu dengan pelengkap tulang rusukmu.
Sementara aku?? Aku disini masih baik-baik saja dengan kesendirianku. Aku disini masih baik-baik saja dengan kehampaan hatiku. Aku masih belum tau kepada siapa sebenarnya aku harus membuka lebar dan mempersilahkan untuk masuk di hatiku.
Mr. A,, saat ini aku masih saja mencari. Setelah lepas darimu, aku telah melewati banyak scenario cinta dari Tuhan. Dengan segala macam rasa. Dengan sejuta cerita. Dan dengan berbagai ending dari tiap cerita itu. Dan lagi-lagi kembali aku masih sendiri. Dan lagi-lagi hatiku masih kosong.
Ahhh.. sudahlah.. aku tak bersedih kok. Bulir air mataku juga tak ku biarkan membasahi pipi lagi. Aku anak SMP ingusan sekarang sudah tumbuh menjadi gadis yang tegar mengikuti scenario cinta Tuhan.
Mr.A.. terima kasih atas segalanya. Semua rasa itu. Semua air mata itu. Dan semua senyum itu. Kini kau dan aku sudah benar-benar berada dalam ruangan masing-masing dengan batas yang tinggi. 

Selamat yaa Mr. A

Minggu, 03 November 2013

Dia yang pernah jadi istimewa (Fatamorgana)

Lucu bila mengingat masa itu. Tiga tahun yang lalu. Ketika setiap hari dan setiap pagi bersama para pencari ilmu lainnya berduyun-duyun ke kampus. Tak ada sedikitpun rasa malas yang menghampiriku. Dan penyebabnya adalah dia..
Pria berdarah batak, berkulit putih dengan senyum termanis itu salah satu semangatku di setiap paginya. Karena di kampuslah, mataku tak pernah lepas dari sosoknya. Semua rasa untuknya berawal dari percakapan melalui pesan singkat di setiap malamnya. Yahh, setiap malam.. Berusaha mencari sejuta alasan agar percakapan itu terus berlanjut hingga salah satu dari kami mengucapkan " Selamat Tidur ". 
Namun di balik kebahagiaan itu, ada satu yang membuatku bergeming bahwa dia hanya akan jadi fatamorgana. Pria ini setiap hari minggu melantunkan puji-pujian untuk Tuhannya. Sedangkan aku bertemu Tuhanku lima kali dalam sehari. Cinta memang datang tak melihat perbedaan. Bahkan perbedaan besar sekalipun. 
Tak pernah terlibat suatu hubungan istimewa dengannya. Hanya teman. Dia yang tahu segala rasa yang berkecambuk di hati, dan aku tak pernah tau apa yang terjadi di hatinya. Berada dalam ketidakpastian selama bertahun-tahun. Berada dalam kekaguman yang tak terbalaskan.
Aku diam dengan keadaan seperti ini??? Tentu tidak. Mulai dari mencoba menghindar darinya saat di kampus, hingga mencoba untuk tidak terjebak dalam percakapan singkat kita di malam hari. Semua nihil!! 
Sampai akhirnya aku pasrah kemana rasa ini akan bermuara. Tak aku tolak namun juga berusaha tak ditambah volumenya.
Kegalauan yang aku tuangkan lewat semua media sosial selalu tentang dia. Jika ada kebahagiaan, itu juga karena dia. Cinta memang lucu. Dan akhirnya, rasa itu tak lagi bermuara. Diam. Dan akhirnya meluap dengan sendirinya. Dengan sendirinya?? mungkin tidak.
Fatamorganaku kini tak terlihat lagi. 

Sabtu, 02 November 2013

Pertama....

inilah tulisan pertama di blog ini. Bisa dibilang terlambat jika baru pada masa ini aku membuat suatu blog pribadi. Ahh mundur selangkah kan tak masalah, seperti anak panah yang harus direnggangkan ke belakang dan baru akan melesat dengan cepatnya.

Tak pernah terpikir berada pada suasana tanggal 08 Juli 2012 yang membuat diri ini begitu terguncang. Siang itu, selepas sholat dhuhur, ibu tercinta pergi ke kehidupan yang lebih kekal di sisi-Nya. Dan saat itu, aku mencaci maki jarak. Jarak memang kejam!! Karenanya, aku tak bisa hadir di moment terakhir yang seharusnya aku bisa memandikan ibuku untuk terakhir kalinya. Yang seharusnya, aku bisa mengantarkan ibuku ke tempat yang dingin dan sunyi itu. Jaraakkkk!!!!
kini,, suara lembut yang biasa aku dengar lewat telpon setiap harinya itu tak terdengar lagi. Celotehan, omelan maupun nasihatnya hanya terngiang-ngiang di telinga. Sosoknya hanya bisa aku jumpai lewat mimpi. Aku merindukan segalanya tentangmu ibu. Terutama doa tulus untukku yang tak sengaja aku dengar di kala engkau sholat. 

tapi, aku tak boleh berada dalam keadaan mendung seperti ini. Bagaimana mungkin aku bisa mewujudkan mimpi ibu, jika aku tak memiliki semangat untuk bangkit. yuph,, aku si sulung yang harus tegar karena ketegaranku akan berimbas pada semangat adik-adikku.

Setahun lebih sudah aku tanpamu ibu. Dan sekarang aku hampir menyelesaikan studiku. Satu tantangan yaitu Kuliah Kerja Nyata baru saja aku lewati. Bersama 14 orang yang sudah seperti keluarga berada dalam satu gerbong kereta dan menempuh perjalanan selama 60 hari bersama. Hingga pada 20 September 2013, kami bersama-sama keluar untuk menuju tujuan masing-masing dan berjanji akan bertemu lagi dalam masa yang berbeda.

Sekarang, tugas akhir pun telah menunggu. Mengumpulkan puing-puing semangat yang sempat tercecer setelah Kuliah Kerja Nyata. Mengerahkan segala daya dan upaya sembari terus ingat bahwa Ibu ingin aku cepat lulus dari kampus Pinang Masak itu.  
Semangat itu harus dinyalakan lebih berkobar lagi,,
Resolusi bertinta merah itu harus terwujud..