Lucu bila mengingat masa itu. Tiga tahun yang lalu. Ketika setiap hari dan setiap pagi bersama para pencari ilmu lainnya berduyun-duyun ke kampus. Tak ada sedikitpun rasa malas yang menghampiriku. Dan penyebabnya adalah dia..
Pria berdarah batak, berkulit putih dengan senyum termanis itu salah satu semangatku di setiap paginya. Karena di kampuslah, mataku tak pernah lepas dari sosoknya. Semua rasa untuknya berawal dari percakapan melalui pesan singkat di setiap malamnya. Yahh, setiap malam.. Berusaha mencari sejuta alasan agar percakapan itu terus berlanjut hingga salah satu dari kami mengucapkan " Selamat Tidur ".
Namun di balik kebahagiaan itu, ada satu yang membuatku bergeming bahwa dia hanya akan jadi fatamorgana. Pria ini setiap hari minggu melantunkan puji-pujian untuk Tuhannya. Sedangkan aku bertemu Tuhanku lima kali dalam sehari. Cinta memang datang tak melihat perbedaan. Bahkan perbedaan besar sekalipun.
Tak pernah terlibat suatu hubungan istimewa dengannya. Hanya teman. Dia yang tahu segala rasa yang berkecambuk di hati, dan aku tak pernah tau apa yang terjadi di hatinya. Berada dalam ketidakpastian selama bertahun-tahun. Berada dalam kekaguman yang tak terbalaskan.
Aku diam dengan keadaan seperti ini??? Tentu tidak. Mulai dari mencoba menghindar darinya saat di kampus, hingga mencoba untuk tidak terjebak dalam percakapan singkat kita di malam hari. Semua nihil!!
Sampai akhirnya aku pasrah kemana rasa ini akan bermuara. Tak aku tolak namun juga berusaha tak ditambah volumenya.
Kegalauan yang aku tuangkan lewat semua media sosial selalu tentang dia. Jika ada kebahagiaan, itu juga karena dia. Cinta memang lucu. Dan akhirnya, rasa itu tak lagi bermuara. Diam. Dan akhirnya meluap dengan sendirinya. Dengan sendirinya?? mungkin tidak.
Fatamorganaku kini tak terlihat lagi.
Fatamorganaku kini tak terlihat lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar