Selasa, 19 November 2013

Aku dan Kisah Satu Bulanku

Ini cerita tentang dua orang sahabat. Bukan karena mereka telah berteman selama bertahun-tahun. Pertemanan mereka masih berumur jagung. Tapi persahabatan lebih kepada kenyamanan satu sama lain yang tidak mereka dapatkan jika mereka menjalin hubungan istimewa.
Inilah sepenggal ceritaku. Salah satu kisah tentang hati. Dan sahabatku ini adalah sosok yang kini menempati salah satu ruang di hati. Kenapa begitu?? Karena cerita awal kita bukanlah hubungan biasa.

Rasa itu tak pernah ada di pertemuan pertama. Dan untuk pertemuan-pertemuan selanjutnya, mungkin. Namun, kau memulainya. Kamu memulai cerita dengan banyak rasa ini. Saat itu, harapanku terlalu tinggi  padamu. Kamulah yang buatku bisa move on dari dia yang telah kucintai selama tiga tahun tapi tanpa muara. Ketika itu, mungkin aku terlalu peka, terlalu gede rasa, hingga beranggap hanya aku yang ada di hatimu. Tapi ternyata aku salah. Cincin di jarimu itu buktinya. Meskipun aku tak berani bertanya langsung, tapi aku punya banyak informan. Dan mendadak jadi Galau.
Aku jadi ingat kutipan perkataanmu padaku kala itu..
"Aku sayang denganmu, dan aku akan mencoba lebih. Tapi perlu kau tahu, bahwa rasa cinta di hatiku sudah lama mati "
Dan aku percaya begitu saja.
Sekarang, aku baru sadar.. Rasa cinta yang kau bilang sudah lama mati, MATI??? Bukan mati, tapi masih untuk dia di masa lalumu. Kenapa kau tak jujur saja?? Tentu aku bakal lari darimu sebelum aku terlalu sayang.
Hingga suatu hari kau diam, bungkam, tak mau aku ganggu. itu bukan terjadi sehari atau dua hari, tapi berhari-hari. Dan bodohnya aku, kenapa aku terus mengejarmu, terus berusaha membuatmu bicara. Aku benar-benar tak mengerti apa yang terjadi. Aku hanya percaya kata hatiku saja, tak melihat realita.
Dan akhirnya aku tak bisa diam saja. Hanya satu bulan, mungkin lebih beberapa hari, aku menjalani hubungan ini. Cukup, sangat cukup aku rasa. Kecuekanmu dan segala sikap yang tak aku mengerti, sudah cukup membuat hatiku sakit. Dan selamat tinggal pada hubungan ini, siang itu.
Ahh, kenapa aku masih ingat saja setiap penggal kisah ini. Harusnya aku cepat-cepat melupakannya. Semestinya aku menghapus memori itu dan merefresh otakku. Jika aku masih ingat kisah ini, aku bukan dendam. Ingat, aku bukan pendendam. Aku memaafkannya.

Dan kini??
Aku dan kamu berada dalam hubungan persahabatan. Mungkin lebih nyaman seperti ini. Aku tetap bisa menjadi diriku sendiri. Tidak jaim. Dan dengan hubungan ini, aku tak perlu merasa was-was dan sakit hati jika kamu masih dengan masa lalumu itu (mungkin).
Aku sadar, ada benih sayang dalam persahabatan kita. Itu dariku. Entah kalau dirimu.
Mencoba mensugesti diri agar tak tumbuh rasa sayang, tapi aku takut rasa itu bertambah. Jadi aku putuskan, biarlah semuanya mengalir, mengalir namun masih ku kendalikan.   



Tidak ada komentar:

Posting Komentar